
Kerja sama internasional di bidang antariksa semakin luas setelah FokusSemarang mencatat jumlah negara yang bergabung dengan Artemis Accords kini mencapai 76. NASA pada 28 September mengumumkan empat tambahan terbaru, yaitu Albania, Kroasia, Côte d’Ivoire atau Pantai Gading, dan San Marino. Kesepakatan tersebut memuat prinsip-prinsip yang dirancang untuk membantu negara menjalankan eksplorasi sipil ke Bulan, Mars, dan wilayah antariksa lainnya secara lebih aman dan transparan.
Pertumbuhan jumlah anggota terjadi cukup cepat.
Artemis Accords pertama kali diluncurkan pada 2020 oleh Amerika Serikat bersama tujuh negara lain.
Enam tahun kemudian, partisipasinya sudah meluas ke puluhan negara dengan kemampuan antariksa yang sangat berbeda.
Empat Negara Bergabung dalam Waktu Singkat
Albania menjadi penandatangan ke-73 pada 21 September.
Kroasia menyusul sebagai negara ke-74 pada 23 September.
Côte d’Ivoire menjadi anggota ke-75 sehari kemudian.
San Marino lalu mengangkat jumlah total menjadi 76 pada 25 September. NASA
Rangkaian penandatanganan yang berdekatan menunjukkan koalisi tersebut masih aktif mencari mitra baru.
Namun, menjadi anggota tidak berarti sebuah negara harus langsung mempunyai roket, astronot, atau misi Bulan sendiri.
Prinsipnya Lebih Luas dari Mendarat di Bulan
Artemis Accords mengatur beberapa prinsip dasar.
Negara penandatangan berkomitmen menjalankan eksplorasi secara damai dan transparan.
Mereka juga mendukung pemberian bantuan dalam kondisi darurat, keterbukaan data ilmiah, pencegahan gangguan terhadap aktivitas pihak lain, dan perlindungan lokasi bersejarah di antariksa.
Dalam panduan NASA, prinsip tersebut juga dirancang selaras dengan kerangka perjanjian internasional yang sudah ada, termasuk Outer Space Treaty.
Kesepakatan ini bukan pengganti hukum antariksa internasional.
Ia berfungsi sebagai kerangka praktik yang lebih spesifik untuk aktivitas eksplorasi sipil modern.
Bulan Akan Semakin Ramai
Kebutuhan koordinasi meningkat karena jumlah misi menuju Bulan terus bertambah.
Tidak hanya negara besar yang mengirim wahana.
Perusahaan swasta juga mulai mengembangkan pendarat, komunikasi, navigasi, dan transportasi.
Ketika banyak pihak bekerja di kawasan yang sama, risiko gangguan ikut meningkat.
Satu misi dapat menggunakan frekuensi komunikasi yang berdekatan dengan misi lain.
Kendaraan bisa beroperasi dekat lokasi ilmiah penting.
Debu yang terangkat saat pendaratan juga dapat memengaruhi peralatan di sekitarnya.
Aturan koordinasi menjadi semakin relevan dalam kondisi tersebut.
Data Ilmiah Menjadi Bagian Penting
Salah satu prinsip Artemis Accords berhubungan dengan keterbukaan data ilmiah.
NASA menyatakan informasi dari program Artemis akan dibagikan kepada komunitas ilmiah global.
Pendekatan ini bertujuan membuat hasil eksplorasi mempunyai manfaat lebih luas daripada hanya untuk negara yang membiayai misi.
Data permukaan Bulan dapat dipakai untuk mempelajari geologi.
Pengukuran radiasi membantu memahami risiko bagi manusia.
Informasi mengenai es di wilayah kutub dapat memengaruhi desain misi masa depan.
Semakin banyak data tersedia, semakin luas pula kelompok ilmuwan yang dapat menggunakannya.
Negara Kecil Juga Punya Ruang
San Marino menjadi contoh menarik.
Negara tersebut tidak mempunyai program antariksa dalam skala negara besar.
Namun, keikutsertaan membuka kesempatan bagi universitas, peneliti, atau perusahaan lokal untuk berpartisipasi pada proyek tertentu.
NASA juga menyebut penandatangan dapat terlibat melalui payload ilmiah, demonstrasi teknologi, CubeSat, atau kemampuan lain.
Kerja sama antariksa modern memang tidak selalu membutuhkan kendaraan peluncur sendiri.
Sebuah negara dapat berkontribusi melalui sensor, software, riset, komunikasi, atau pendidikan.
Standar Bersama Bisa Mengurangi Konflik
Aktivitas antariksa membutuhkan interoperabilitas.
Jika setiap negara menggunakan prosedur komunikasi dan keselamatan yang sepenuhnya berbeda, operasi bersama menjadi lebih sulit.
Kesepakatan mengenai standar dapat mengurangi risiko salah koordinasi.
Hal ini semakin penting saat manusia kembali bekerja di permukaan Bulan untuk periode yang lebih panjang.
Misi permanen atau semi permanen membutuhkan logistik, komunikasi, navigasi, dan prosedur darurat yang lebih kompleks dibanding kunjungan singkat.
Tetap Ada Perdebatan Mengenai Tata Kelola Antariksa
Artemis Accords mendapat dukungan luas dari negara penandatangan, tetapi tata kelola antariksa secara global tetap menjadi bidang yang berkembang.
Tidak semua negara menggunakan pendekatan yang sama.
Sebagian pemerintah lebih menekankan proses melalui lembaga multilateral seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa.
Perbedaan juga dapat muncul mengenai pemanfaatan sumber daya Bulan dan batas kegiatan komersial.
Karena itu, bertambahnya anggota Artemis Accords tidak berarti seluruh isu hukum antariksa sudah selesai.
Kesepakatan ini menjadi salah satu bagian dari perdebatan yang lebih luas mengenai aturan untuk era eksplorasi baru.
Pertemuan Berikutnya Digelar di Türkiye
NASA menjadwalkan Artemis Accords Principals’ Meeting berikutnya di Antalya, Türkiye, mulai 5 Oktober.
Pertemuan akan membahas dukungan bagi negara yang baru mengembangkan kemampuan antariksa serta rekomendasi mengenai mitigasi sampah di Bulan.
Topik sampah mulai mendapat perhatian karena aktivitas yang semakin padat dapat meninggalkan komponen, kendaraan, atau material di permukaan.
Masalah tersebut mungkin terlihat kecil dibanding sampah orbit Bumi saat ini.
Namun, pencegahan lebih mudah dilakukan sebelum aktivitas mencapai skala besar.
76 Negara Bukan Titik Akhir
NASA menyatakan lebih banyak negara diperkirakan bergabung pada masa mendatang.
Jumlah anggota sendiri bukan ukuran tunggal keberhasilan.
Hal yang lebih penting adalah bagaimana prinsip tersebut diterapkan ketika misi benar-benar beroperasi berdampingan.
Transparansi perlu dibuktikan melalui berbagi informasi.
Koordinasi harus bekerja ketika terjadi konflik jadwal atau lokasi.
Standar keselamatan juga harus tetap berlaku ketika kompetisi ekonomi meningkat.
Dengan 76 negara sudah bergabung, Artemis Accords kini mempunyai jangkauan yang jauh lebih besar dibanding ketika diluncurkan enam tahun lalu.
Ujian berikutnya bukan lagi sekadar menambah tanda tangan, tetapi memastikan kerja sama tersebut tetap berfungsi ketika Bulan berubah dari tujuan eksplorasi sesekali menjadi tempat aktivitas manusia yang jauh lebih rutin.















No Response